APA ITU ODA?
Kebijakan Jepang ttg ODA
PROYEK ODA & INVESTASI
Proyek Jepang yg Bermasalah
STATEMENT
Pernyataan Sikap dari NGO
LINKS
Situs2 Penting utk Advokasi
ABOUT NINDJA
Please Contuct Us
1-32-2-101 Kamisoshigaya Setagaya Tokyo 157-0065 Japan
Fax: +81-3-5313-4470
SMS: +62-811-683996
oda (a) nindja.org
http://www.nindja.com/ (dalam bahasa Jepang)
LOG IN
Username:

Password:


Lost Password?

Register now!
MAIN MENU
SEARCH
Kebijakan Jepang : ODA JEPANG TAHUN 2007: JATUH KE PERINGKAT 5 DUNIA oleh KAWATA Hirochika*
Posted by NINDJA on 2008/5/17 2:19:10 (1144 reads)

Pada tanggal 4 April 2008, The Development Assistance Committee (DAC), Organisation for Economic Co-operation and Development(OECD) mengumumkan hasil evaluasi mengenai kinerja ODA dari 22 negara pada tahun 2007. Menurut laporan tersebut, prestasi Jepang tahun 2007 menurun 31,3% jika dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 7.691.000.000 dolar Amerika atau sekitar 780.000.000.000 yen sehingga membuat Jepang turun ke peringkat 5 setelah Jerman dan Prancis. Jika dilihat dari rasio nilai bantuan ODA terhadap Gross National Income (GNI), jumlahnya menurun hingga 0,17% dari 0,25% pada tahun 2006. Rasio ini adalah yang terendah sejak Jepang bergabung dengan OECD tahun 1964. Angka ini adalah yang ketiga dari bawah yaitu menduduki peringkat ke-20 dari 22 negara anggota DAC.

Selama 10 tahun semenjak tahun 1991, ODA Jepang terus menduduki peringkat 1. Tetapi, dari tahun 1997 anggaran ODA terus menerus dikurangi sehingga pada tahun 2001 diungguli oleh Amerika, tahun 2006 oleh Inggris dan akhirnya pada tahun 2007 turun ke peringkat 5. Penyebab jatuhnya peringkat ODA Jepang ini sangat jelas. Yaitu pengurangan anggaran ODA untuk memperbaiki keadaan keuangan Jepang dan pengurangan pemberian keringanan berupa penghapusan hutang kepada negara-negara seperti Irak dan Nigeria secara besar-besaran.

Pengaruh jatuhnya peringkat

Sehubungan dengan turunnya peringkat ODA Jepang, banyak pihak mengkhawatirkan semakin melemahnya kekuatan diplomatik Jepang. Khususnya menjelang Tokyo International Conference on African Development (TICAD IV) dan KTT G8 di Danau Toya Hokkaido yang dikepalai oleh Jepang, dengan bantuan pembangunan sebagai salah satu temanya, surat-surat kabar mengkhawatirkan bahwa penurunan peringkat ini akan mempengaruhi kedudukan Jepang selaku negara penyelenggara dan menyebabkan semakin melemahnya pengaruh Jepang di dunia internasional. Selain itu, ada pula yang menegaskan bahwa diperlukan langkah reformasi fundamental sebelum jatuhnya peringkat ini mempengaruhi turunnya kepercayaan dunia Internasional. Dalam jumpa pers (4/4), Sekretaris Jenderal OECD, Angel Gurria yang sedang berada di Jepang untuk menghadiri pertemuan tingkat menteri pembangunan G8 mengungkapkan bahwa pemerintah Jepang tidak perlu terlalu terpancang pada peringkat. Hanya saja terdapat kekhawatiran jika melihat kecenderungan penurunan jumlah bantuan pembangunan.

Tren Internasional berhubungan dengan ODA dan Jepang

Dewasa ini terdapat tren Internasional yang membuat negara-negara donor semakin memprioritaskan ODA dan sepakat untuk meningkatkan jumlah bantuan ODA. Millenium Development Goals(MDGs) menargetkan negara donor OECD supaya rasio bantuan ODA terhadap GNI dinaikkan hingga 0,7% sampai dengan tahun 2015. Merespon tren ini, Jepang menyatakan komitmennya kepada dunia internasional pada KTT G8 di Gleneagles, Inggris tahun 2005 dengan pernyataan bahwa sampai dengan tahun 2009 dalam 5 tahun jumlah bantuan akan dinaikkan sebanyak 10 milyar dolar Amerika terhadap angka bantuan tahun 2004 sebesar 8,9 milyar dolar Amerika, dan pada tahun yang sama di KTT Asia-Afrika di Indonesia dengan ungkapan bahwa dalam 3 tahun sejak saat itu nilai bantuan ODA terhadap Afrika akan dilipatduakan sehingga pada tahun 2007 jumlahnya akan menjadi 1,68 milyar dolar Amerika. Akan tetapi, dalam "Kebijakan Dasar tentang Reformasi dan Manajemen Ekonomi dan Keuangan Negara" yang ditetapkan rapat kabinet tahun 2006 disebutkan bahwa dalam 5 tahun, anggaran ODA ini akan dikurangi dengan rasio 2% sampai 4% pertahun dengan alasan memburuknya keuangan negara. Demikianlah berlawanan dengan tren Internasional, Jepang, dengan alasan kesulitan finansial dalam negeri, telah menciutkan anggaran untuk ODA.

Pada tahun-tahun terakhir, perhatian masyarakat internasional tertuju kepada Afrika. Sebagai tanggapan terhadap prediksi bahwa target ODA untuk negara-negara Afrika akan tercapai, pada tanggal 6 Januari 2008 Dvisi Strategi Nasional partai LDP yang diketuai oleh PM Fukuda Yasuo telah menetapkan usulan kepada pemerintah supaya meningkatkan nilai bantuan tahun 2007 yang diprediksikan sebesar 1,7 milyar dolar Amerika (sekitar 187 milyar yen) hingga 3 kali lipat dalam 5 tahun sampai dengan tahun 2012. Dibalik semua ini, terlihat pemikiran bahwa untuk menjalankan kepemimpinan dalam TICAD IV dan KTT G8, peningkatan bantuan terhadap Afrika adalah mutlak.
¡¡¡¡
ODA dari sekarang

Di tengah-tengah kekhawatiran akan melemahnya posisi diplomatik Jepang, "Untuk meningkatkan bantuan terhadap negara-negara berkembang, kami bertekad untuk menghentikan dan membalikkan kecenderungan penurunan ODA" ungkap Menlu Jepang Komura Masahiko, dalam rapat tingkat menteri G8 yang dibuka di Tokyo (5/4), untuk menghentikan kecenderungan penurunan anggaran ODA Jepang. Kemudian terdapat pula gerakan untuk memasukkan peningkatan bantuan pembangunan dalam pernyataan bersama oleh pimpinan pada hari terakhir rapat tingkat menteri pembangunan G8. Akan tetapi, bertentangan dengan komitmen internasional Jepang yaitu untuk menaikkan bantuan ODA sebesar 10 milyar dolar Amerika terhadap bantuan tahun 2004 sebesar 8,9 milyar sehingga nilai totalnya akan menjadi 18,9 dolar Amerika sampai tahun 2009, dana yang telah dikucurkan pada tahun 2007 hanyalah 7,7 milyar dolar Amerika, tidak lebih separuh dari nilai yang dijanjikan. Selain itu, mengenai target rasio terhadap GNI yang 0,7%, pada tahun 2006 masih berkisar 0,25% dan pada tahun 2007 turun menjadi 0,17%. Angka ini masih jauh dari target.Sehingga muncul suara-suara yang meragukan tercapainya komitmen internasional Jepang ini secara substansial.

Selain penurunan nilai bantuan ODA Jepang yang disebut-sebut sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke-2 di dunia itu, dana ODA tercairkan yang ditanggung perkapita juga baru mencapai 87,7 dolar Amerika (tahun 2006) dan menduduki peringkat ke-17 dari 22 negara anggota peserta DAC (tahun 2006). Jika dibandingkan dengan Luxemburg, selisihnya masih lebih dari 500 dolar Amerika.

Hingga saat ini, pemerintah Jepang masih bisa berkelit terhadap kritik tentang kualitas bantuan ODA dengan membanggakan kuantitas bantuan yang besar. Namun dengan jatuhnya peringkat bantuan Jepang saat ini, pemerintah sudah tidak bisa menggunakan argumen yang sama lagi.

* KAWATA Hirochika
Relawan NINDJA

Printer Friendly Page Send this Story to a Friend
 
The comments are owned by the poster. We aren't responsible for their content.