APA ITU ODA?
Kebijakan Jepang ttg ODA
PROYEK ODA & INVESTASI
Proyek Jepang yg Bermasalah
STATEMENT
Pernyataan Sikap dari NGO
LINKS
Situs2 Penting utk Advokasi
ABOUT NINDJA
Please Contuct Us
1-32-2-101 Kamisoshigaya Setagaya Tokyo 157-0065 Japan
Fax: +81-3-5313-4470
SMS: +62-811-683996
oda (a) nindja.org
http://www.nindja.com/ (dalam bahasa Jepang)
MAIN MENU
SEARCH
LOG IN
ユーザ名:

パスワード:


パスワード紛失

新規登録
PROYEK ODA & INVESTASI
5. Sulawesi : YOMIURI: BENDUNGAN LUMPUR YANG MENGHABISKAN DANA 25,1 MILIYAR YEN
投稿者: NINDJA 投稿日時: 2006-10-6 20:41:00 (2862 ヒット)

Bendungan Lumpur yang menghabiskan dana 25,1 miliyar Yen
Pinjaman Jepang kepada Indonesia


The Yomiuri Shinbun, 6 Oktober 2006

English Version: http://www.nindja.org/modules/news1/article.php?storyid=5

Bendungan serbaguna yang dibangun dengan pinjaman dari Jepang sebesar 25,1 miliyar yen (1,88 triliun rupiah) mulai tertimbun dengan lumpur, baru lima tahun setelah selesai dibangun dan diketahui bahwa pihak Jepang memberikan pinjaman tambahan sekitar 10 milyar yen sebagai penanganan darurat. Hal ini disebabkan longsoran lereng gunung di daerah hulu dari bendungan, tetapi bahaya tersebut diketahui sebelum dilakukan pembangunan. Perusahaan konsultan yang melakukan pra-studi menangani juga pra studi proyek darurat. Bantuan pembangunan resmi (ODA) sedang mendiskusikan untuk meninjau ulang. Begitu dilaporkan dari lapangan.

Dengan menggunakan mobil sekitar satu jam dari Makasar, kota terbesar di Sulawesi. Waduk dari Bendungan Bili-Bili (18km2) lebih besar dari danau Suma (Kabupaten Nagano, Jepang). Pada bagian hulunya menjadi berwarna coklat dengan lumpur yang mengalir, dan sejauh mata memandang seperti padang lumpur.

Di Sungai Jeneberang yang mengalir ke waduk adalah tanah dan pasir, dan mulai dikeruk dengan menggunakan alat berat. Setiap hari tanah dan pasir sebanyak 30 buah truk dikeruk ke luar, namun orang yang bertanggungjawab di lapangan mengeluh bahwa "sampai kapanpun tidak akan selesai". Bapak Rais Dulu yang mengelola warung makan menyatakan bahwa "waduk yang mestinya tempat menampung air menjadi tempat menampung lumpur. Dan orang yang membuat rencana seharusnya bertanggungjawab". Bendungan ini selesai dibangun pada tahun 1999 dengan tujuan untuk mengendalikan air, irigasi, air minum dan lain-lain. Pekerjaan pembangunan diborong oleh perusahaan kontruksi semi raksasa dari Jepang.

Namun pada Maret tahun 2004, longsoran besar terjadi di gunung di daerah aliran hulu sungainya, dan tanah serta pasir yang mengalir melalui sungai mencapai sampai waduk dimana berjarak 35 km dari hulu.

Bendugan tersebut memiliki nilai batas timbunan tanah dan pasir sebesar 29 juta meter kubik. Dalam perencanaannya, dibangun bedengan yang mampu tidak terganggu selama 50 tahun, tetapi berdasarkan hasil studi lapangan yang dilakukan oleh JICA (Japan International Cooperation Agency), sesaat sesudah terjadinya longsor, diperkirakan pada tahun 2009 bendungan tersebut akan dipenuhi lumpur, sehingga disarankan penanganan darurat dan diputuskan pinjaman tambahan. Sejauh manakah diketahui kemungkinan terjadinya longsor pada tahap pra-studi?

Pada awalnya pihak JBIC (Japan Bank for International Cooperation), pihak yang memberikan pinjaman hanya menjelaskan berulang kali kepada Yomiuri Shinbun bahwa "Di dalam pra studi pada tahun 1979 hanya dicatat bahwa 'gunung di daerah aliran hulu merupakan batu keras, sehingga tidak diperkirakan akan terjadi longsoran'".

Namun pada saat Yomiuri Shinbun mendapat hasil laporan tersebut tidak ada catatan seperti itu dan ditunjuk bahwa 'Gunung di mana daerah sumbur air sangat miring. Pada akhir ini terjadi longsoran tanah dan longsor yang besar pada tahun 1965', 'Pada masa yang akan datang juga ada kemungkinan terjadinya (longsoran) tanah dan pasir, maka Sabo yang menjadi penting'". Laporan tersebut merupakan hasil dari studi lapangan yang dilakukan oleh ahli dari mantan Departmen Konstruksi.

Kemudian laporan lain yang dibuat oleh JICA melalui kontrak dengan perusahaan konsultan (kantor pusatnya di Tokyo menyatakan '(gunungnya) merupakan dari batu keras' 'tanah dan pasir yang mengalir tidak seperti dikhawatirkan', sehingga proyeknya diberikan lampu hijau. Pihak anggota pimpinan perusahaan tersebut menjelaskan bahwa `Isinya bisa tertentangan, namun pada saat itu kurang terbiasa bisnis di luar negeri dan mungkin penjelasannya kurang'.

Mengenai bantuan tambahan, perusahaan tersebut mendapat kontrak langsung dari JBIC untuk pembuatan rencana proyek dan lain-lainnya senilai 3700 juta yen.

JICA menjelaskan bahwa "Penelitiannya dilakukan dengan tepat, tetapi tidak dapat diperkirakan longsoran begitu besar akan terjadi seperti ini".

Prof. Murai Yoshinori dari Universitas Sophia, ahli masalah ODA dan pernah meninjau lokasi setempat menunding bahwa "Ada kemungkinan dampak longsoran yang akan terjadi sengaja dinilai dengan kecil. Besar kemungkinan bendungan yang dibangun di tempat dimana semestinya tidak boleh dibangun, dan memberikan dana tanpa melakukan pemeriksaan dengan benar".

印刷用ページ このニュースを友達に送る
 
投稿された内容の著作権はコメントの投稿者に帰属します。